Pelalawan|Buserinvestigasi24.com
Di balik pintu rumahnya yang sangat mewah dengan lantai marmer, taman yang indah, gerbang yang kokoh,mobil di garasi yang mewah, berlantai dua, punya lapangan bola Volly dan mushola yang bagus isi harta dan kebutuhan rumahnya serba ada, uang tabungan di Bank milyaran rupiah tersimpan Luka yang tak kasat mata dari Seorang perempuan berstatus janda yang tinggal di daerah “Transmigrasi”.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Seorang narasumber yang sangat kuat dan kenal dengan janda tersebut yang tak ingin disebutkan di dalam berita ini mengatakan kepada awak media Buserinvestigasi24.com mengatakan bahwa Janda cantik beranak 1 dengan bapaknya yang berinisial (S) yang tinggal di Sp…? desa…?Jalur…? RT…? RW….? dia harus menjalani hari-hari yang penuh tekanan batin, fikiran dan penderitaan mental. Bukan karena kemiskinan semata, bukan pula karena ditinggal pasangan hidup, melainkan karena sikap orang tuanya sendiri yang dinilai terlalu mengagungkan harta dunia, hingga mengabaikan nilai kasih sayang dan kemanusiaan. Senin (15/12/2025)
Janda ini masih tergolong muda dia seorang petani sawit yang cukup kaya raya orang tuanya memiliki 50 hektar sawit dia bukan hanya kehilangan pasangannya, tetapi juga kehilangan tempat bersandar, hampir 3X kandas dalam pernikahan Alih-alih mendapatkan dukungan emosional, ia justru kerap menerima tekanan, tuntutan, dan ucapan yang merendahkan harga dirinya dari kedua orang tuanya, Setiap langkah hidupnya seakan diukur dengan materi, setiap keputusan dinilai dari seberapa besar keuntungan duniawi yang bisa dihasilkan.
Tekanan psikis yang dialami tidak selalu berbentuk kekerasan fisik. Namun kata-kata tajam, sikap meremehkan, dan pembandingan terus-menerus dengan harta serta status orang lain perlahan menggerogoti mentalnya. Ia hidup dalam ketakutan, rasa bersalah, dan kehilangan kepercayaan diri.
Kondisi ini berpotensi memicu:
Depresi berkepanjangan
Gangguan kecemasan
Menarik diri dari lingkungan sosial
Hilangnya semangat hidup dan masa depan
Ironisnya, penderitaan ini sering dianggap sepele karena “hanya urusan keluarga”, padahal dampaknya bisa jauh lebih menghancurkan daripada luka fisik.
Dampak Sosial dan Lingkungan
Tekanan batin dalam keluarga tidak berhenti pada satu individu. Lingkungan sekitar ikut merasakan dampaknya. Anak-anak yang melihat kondisi ini berisiko tumbuh dengan trauma emosional. Masyarakat pun kehilangan figur perempuan tangguh yang seharusnya bisa bangkit dan berkontribusi.

Jika dibiarkan, pola pikir yang mengagungkan harta di atas nilai kemanusiaan akan melahirkan generasi yang dingin secara empati, rapuh secara mental, dan jauh dari nilai sosial serta moral.
Dalam ajaran agama, harta bukanlah tujuan hidup, melainkan ujian.
> “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan, dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.”
(QS. At-Taghabun: 15)
Rasulullah SAW juga bersabda:
> “Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kaya hati.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Menekan, menyakiti batin, dan merendahkan sesama terlebih kepada anak sendiri bertentangan dengan nilai agama yang menjunjung kasih sayang, keadilan, dan akhlak mulia.
Tinjauan Hukum: Kekerasan Psikis Bukan Hal Sepele
Secara hukum, tekanan mental dalam keluarga dapat masuk kategori kekerasan psikis.
Pasal 45 UU No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT) menyebutkan bahwa kekerasan psikis dapat dipidana.
Kekerasan psikis mencakup perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, penderitaan mental, dan tekanan batin berat.
Ancaman pidana dapat berupa penjara atau denda, tergantung tingkat dampak yang ditimbulkan.
Artinya, dalih “orang tua” atau “urusan keluarga” tidak serta-merta membenarkan tindakan yang melukai mental seseorang anak.
Kisah ini bukan untuk membuka aib, melainkan sebagai cermin sosial. Bahwa di balik kemilau harta, ada jiwa yang hancur perlahan. Bahwa keluarga seharusnya menjadi tempat paling aman, bukan sumber luka terdalam.
Sudah saatnya masyarakat, tokoh agama, dan aparat terkait lebih peka terhadap kekerasan psikis dalam keluarga. Sebab luka batin yang dibiarkan bisa berubah menjadi tragedi yang tak terbayangkan.
Harta bisa dicari, tapi hati yang hancur belum tentu bisa dipulihkan.
Haus Validasi di Media Sosial, Terasing di Dunia Nyata
Tekanan batin yang berkepanjangan itu perlahan mengubah hidup sang janda kaya cantik ini,Ketika kasih sayang dan pengakuan tak ia dapatkan di rumah dan lingkungan terdekat, ia mulai mencarinya di tempat lain: “media sosial.”selalu tampil di Tik-tok dan Facebook setiap hari karna mencari pelarian dan haus akan validasi.
Like, komentar, dan pesan simpati menjadi pengganti pelukan yang tak pernah ia terima. Pujian dari orang asing terasa lebih hangat dibanding kata-kata dingin dari keluarga dan ortunya sendiri. Media sosial berubah menjadi pelarian, bahkan candu tempat ia merasa “dianggap ada”, meski hanya sesaat.
Namun ironi pun terjadi. Semakin ia mencari validasi di dunia maya, semakin ia dijauhi di dunia nyata.
Lingkungan sekitar mulai memberi label, prasangka, dan stigma. Ia dianggap “berubah”, “haus perhatian”, bahkan dinilai berlebihan tanpa pernah ada yang benar-benar bertanya: apa yang sebenarnya ia rasakan?
Perlahan, lingkaran pertemanan menyempit. Undangan berkurang. Sapaan menghilang. Ia menjadi asing di tengah masyarakatnya sendiri. Padahal yang ia butuhkan bukan sorotan, melainkan pengertian.
Kondisi ini memperparah:
Kesepian ekstrem
Ketergantungan emosional pada dunia digital
Krisis identitas dan harga diri
Risiko gangguan mental yang lebih serius
Lingkungan yang seharusnya menjadi ruang pemulihan justru berubah menjadi ruang penghakiman.
Dalam perspektif agama, manusia yang haus validasi sejatinya adalah jiwa yang lapar kasih sayang.
> “Dan bergaullah dengan mereka secara patut.”
(QS. An-Nisa: 19)
Mengabaikan batin seseorang hingga ia mencari pengakuan di tempat yang salah bukanlah kegagalan individu semata, melainkan kegagalan kolektif keluarga dan lingkungan yang lalai menjaga amanah kemanusiaan.
Fenomena ini bukan kasus tunggal. Banyak janda, perempuan rentan, dan korban tekanan batin akhirnya terjebak dalam ilusi penerimaan media sosial karena dunia nyata menutup pintunya bagi mereka bahkan bisa terjerumus ke dalam lembah hitam akibat “broken home”
Ketika masyarakat lebih cepat menghakimi daripada merangkul, maka jangan heran jika seseorang memilih dunia maya sebagai satu-satunya tempat bertahan hidup secara emosional.
Janda ini bukan haus perhatian ia haus kasih sayang serta validasi kepada setiap laki-laki yang di jumlahnya di medsos
Bukan mencari sensasi ia mencari pengakuan sebagai manusia.
Dan ketika lingkungan memilih menjauh, luka itu tak lagi sekadar batin, tetapi berubah menjadi krisis sosial yang seharusnya menjadi tanggung jawab bersama.(Red)
Sumber Berita : Sangat Rahasia (K……..O)





















