Diduga Tak Ber’Etika dan Ber’Adab, Oknum Wartawan “JITAK KEPALA” Rekan Seprofesi Didepan Publik Saat Acara Bukber~Marwah dan Profesionalisme Pers Dipertanyakan Publik!

- Penulis

Senin, 16 Maret 2026 - 22:11

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pelalawan | Buserinvestigasi24.com

Acara silaturahmi dan buka puasa bersama antara Pemerintah Kabupaten Pelalawan dan insan pers yang digelar di Balai Seminai, Kompleks Kantor Bupati Pelalawan, Senin (16/03/2026), sempat diwarnai insiden kecil yang menimbulkan tanda tanya di kalangan rekan seprofesi wartawan.

Acara yang diselenggarakan berdasarkan undangan resmi dari Pemerintah Kabupaten Pelalawan melalui Sekretariat Daerah itu sejatinya bertujuan mempererat hubungan kemitraan antara pemerintah daerah dan insan pers di momentum bulan suci Ramadhan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebuah insiden yang dinilai mencoreng wajah dunia jurnalistik terjadi di tengah kegiatan buka puasa bersama. Seorang oknum wartawan berinisial (“YANG PAKAI TOPI PAS ACARA”) yang disebut-sebut berprofesi sebagai wartawan yang bernaung di organisasi besar dan tertua di Indonesia diduga menjitak kepala rekan seprofesinya di hadapan banyak orang. Peristiwa itu sontak memantik reaksi keras dari kalangan jurnalis dan masyarakat yang menilai tindakan tersebut tidak mencerminkan etika serta adab profesi wartawan.

Peristiwa yang terjadi di ruang publik itu menyisakan tanda tanya besar bagaimana mungkin profesi yang seharusnya menjunjung tinggi akal sehat, etika, dan martabat justru dipertontonkan dengan tindakan yang dinilai merendahkan sesama insan pers, Sejumlah saksi di lokasi menyebut kejadian itu berlangsung secara tiba-tiba dan spontan di tengah suasana buka puasa bersama. Awalnya kegiatan berlangsung normal, namun suasana berubah tegang ketika terjadi kontak fisik berupa jitakan di kepala dari arah belakang tanpa diduga terhadap seorang wartawan lain.

Salah satu tamu dan awak media yang tak ingin disebutkan namanya berkata:

“Halah! kalau dia udah ngak heran lagi kami bg! Memang kayak gitu sifatnya dari dulu mana ada yang suka kawan-kawan media sama dia itu bg! Kawan media banyak yang pura-pura suka aja di depan dia tapi kalau di belakang banyak yang benci dan ngak suka sama dia itu bg! Karna sifatnya ” Tamak, Rakus, Licik, Egois dan selalu mau menang sendiri” itu yang buat kawan-kawan benci sama dia itu bg, “karna dia itu suka usil dan kepo sama urusan bisnis dan kerjaan kawan sendiri bg!” ngak usah di gubris dia itu bg! Biarkan saja sudah tabiat dan wataknya kayak gitu dari dulu bg! Ketua dia aja belum tentu suka sama dia itu bg! mangkanya dia ngak pernah mau komentar sama sekali di group “info pelalawan” karna semua orang kerinci ini sudah tahu watak dan sifat karakter aslinya, memang ngak bisa dijadikan kawan dia itu bg! manusia bebal dan kolot dia itu bg! padahal dia tahu ada ketua abang duduk di depan abang kan,ada pak bupati dan wakil bupati banyak kepala dinas disitu kan ngak di pakai otaknya dia itu bg! bercanda ngak kayak gitu caranya bg! itu sengaja mempermalukan abang namanya,Buat kan berita saja dia itu bg biar semua orang tahu,itu sama aja artinya dia ngak menghargai umat muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa sedangkan dia ngak berpuasa? aku siap jadi saksinya karna aku melihat langsung dia tadi menjitak kepala abang dari belakang biar sadar diri dan tahu diri dia itu bg.

Namun Meski tidak menimbulkan luka serius, tindakan tersebut dinilai sebagai bentuk penghinaan, pelecehan dan kekerasan ringan yang tidak pantas dilakukan di ruang publik, terlebih oleh seseorang yang membawa identitas profesi wartawan apalagi sudah bergabung di organisasi besar sama saja dia mencoreng organisasinya sendiri.

Sorotan Etika dan Profesionalisme Pers

Insiden ini memantik kritik dari sejumlah kalangan yang menilai tindakan tersebut berpotensi mencederai marwah profesi jurnalistik Dalam Kode Etik Jurnalistik, wartawan dituntut menjunjung tinggi profesionalitas, menjaga martabat profesi, serta menghormati sesama rekan seprofesinya, Tindakan yang berpotensi merendahkan orang lain di depan publik jelas bertentangan dengan nilai-nilai kemanusian, Di mata publik, wartawan bukan sekadar pencari berita Wartawan adalah penjaga akal sehat masyarakat Ketika sesama wartawan justru memperlihatkan konflik secara kasar di ruang publik, kepercayaan masyarakat terhadap profesi ini bisa terkikis.

Singkatnya: satu tindakan kecil bisa menimbulkan luka besar pada reputasi profesi Potensi Konsekuensi Hukum

Jika pihak yang merasa dirugikan menempuh jalur hukum, tindakan tersebut berpotensi masuk dalam kategori “perbuatan tidak menyenangkan” atau kekerasan ringan Beberapa ketentuan yang berpotensi relevan antara lain:

Pasal 352 KUHP ;

Tentang penganiayaan ringan, yang dapat dikenakan terhadap tindakan kekerasan fisik ringan terhadap orang lain, Penjara paling lama 3 bulan dan

Pasal 351 KUHP ;

“Unsur Mempermalukan orang lain di Depan Umum”

Jika dilakukan di depan banyak orang sehingga korban merasa dipermalukan, hal ini juga dapat dikaitkan dengan unsur perendahan martabat atau penghinaan, tergantung konteks kejadian.Tentang penghinaan ringan yang dilakukan di depan umum, Penjara hingga 2 tahun 8 bulan.

Baca Juga:  BKM Masjid Al Hidayah Gelar Pelatihan Fardhu Kifayah dan Pawai Taaruf

Dampak Sosial bagi Sesama Wartawan

Peristiwa seperti ini tidak hanya menyentuh dua individu yang terlibat. Dampaknya bisa meluas pada komunitas organisasi profesi lainnya :

1). Menurunnya kepercayaan publik terhadap kinerja wartawan Publik bisa menilai profesi ini tidak solid dan mudah tersulut api konflik.

2). Tergerusnya solidaritas antar jurnalis

Dunia pers seharusnya berdiri di atas solidaritas dan saling menghormati antar sesama Stigma negatif terhadap wartawan di daerah Satu tindakan bisa membuat masyarakat menggeneralisasi seluruh profesi wartawan.

Dampak Lingkungan Sosial :

Di tengah masyarakat, wartawan sering menjadi rujukan informasi dan panutan dalam menyampaikan kritik secara beradab. Ketika konflik diselesaikan dengan emosi dan tindakan fisik, masyarakat bisa menangkap pesan yang keliru seolah perbedaan pendapat boleh diselesaikan dengan cara kasar.

Padahal, pers justru lahir untuk merawat nalar, bukan memamerkan amarah dan ego sesaat, Perspektif Moral dan Agama

Dalam pandangan moral dan agama, menjaga kehormatan sesama manusia merupakan prinsip yang sangat dijunjung tinggi.

Dalam Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 11 disebutkan:

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain, boleh jadi mereka yang direndahkan lebih baik dari mereka.”

Ayat ini mengingatkan bahwa merendahkan atau mempermalukan orang lain di depan publik adalah perilaku yang tidak dianjurkan Selain itu, dalam sebuah hadis disebutkan:

“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya; tidak boleh menzalimi dan tidak boleh merendahkannya.”

Syeh Abdul Kodir Jaelani Pernah Berkata

“iblis itu ilmu nya lebih Tinggi dari pada Manusia tapi Manusia sendiri terkadang Sifatnya Melebihi iblis itu Sendiri”

Ucapan yang sering dinisbatkan kepada Abdul Qodir al-Jaelani itu mengandung tamparan halus untuk manusia

Maknanya sederhana tapi dalam

Iblis tidak bodoh Ia punya pengetahuan, Ia pernah berada di barisan makhluk yang taat dari manusia, Bahkan ia tahu siapa Tuhannya Namun masalahnya bukan pada ilmu, melainkan pada kesombongan dan keserakahan manusia itu sendiri, Dalam kisah yang dikenal dalam ajaran Islam, iblis menolak sujud kepada Adam bukan karena tidak tahu perintah Tuhan, tetapi karena egonya merasa lebih tinggi sendiri.

Di situlah letak pelajarannya

Kadang manusia juga begitu Ilmu tinggi, tapi akhlaknya rendah Pandai bicara, tapi hati dipenuhi iri dan dengki Tahu kebenaran, tapi tetap memilih kebatilan Ironisnya, iblis hanya punya satu dosa besar, kesombongan dan keangkuhan Sedangkan manusia kadang mengumpulkan semuanya, sombong, dengki, tamak, fitnah,hasut dan zalim, Jadi maksud kalimat itu kira-kira begini Ilmu tanpa kerendahan hati bisa menjerumuskan manusia lebih dalam daripada iblis itu sendiri Pesannya tajam Jangan bangga hanya karena tahu banyak Yang lebih penting adalah adab, hati, dan akhlak Karena pada akhirnya, manusia tidak diukur dari Seberapa tinggi ilmunya, tetapi dari seberapa lurus hati dan fikirannya, pada intinya :

“Ilmu membuat manusia pintarAkhlak membuat manusia mulia dan ego membuat manusia hina”.

Nilai ini sejalan dengan prinsip dasar profesi wartawan menghormati martabat manusia Pentingnya Penyelesaian Secara Dewasa Sejumlah kalangan berharap persoalan ini dapat diselesaikan secara bijak, baik melalui klarifikasi, permintaan maaf, maupun mediasi antar pihak

Konflik antar manusia memang tidak selalu bisa dihindari, Namun cara menyelesaikannya mencerminkan kedewasaan Di tengah derasnya arus informasi dan sorotan publik, wartawan dituntut bukan hanya tajam menulis, tetapi juga dewasa dalam bersikap

Karena pada akhirnya, pena wartawan seharusnya lebih tajam dari pada emosi.

Hingga berita ini diturunkan, pihak yang diduga melakukan tindakan tersebut belum memberikan klarifikasi resmi terkait insiden tersebut Sementara itu, korban menyatakan masih mempertimbangkan langkah selanjutnya dan berharap kejadian tersebut menjadi pelajaran agar setiap pihak lebih menjaga sikap dan etika, terutama dalam forum resmi pemerintah daerah yang melibatkan banyak pihak instansi

Peristiwa ini menjadi refleksi bahwa marwah profesi wartawan tidak hanya ditentukan oleh tajamnya pena dalam menulis berita, tetapi juga oleh sikap dan perilaku yang mencerminkan integritas di tengah masyarakat. (Tim Redaksi)

Catatan Khusus :

“Jangan Suka Mencari Pembenaran di balik Kesalahan diri sendiri dan jangan suka Memutarbalikkan Fakta (“PLAYING VICTIM”) kalau salah ya di akui kalau benar ya di klarifikasi”, “(UU HAM) UU No.39 Tahun 1999 Pasal 7”, karna “Semua orang itu sama di hadapan hukum dan berhak atas perlindungan hukum yang sama tanpa diskriminasi dan intervensi”

(Jadilah Manusia dewasa dan bijaksana)

Berita Terkait

Buka Puasa Bersama Wartawan Bupati Zukri Ajak Pers Bersinergi Bangun Pelalawan
Kadis Kesehatan Pelalawan Tinjau Posko Lebaran, Puskesmas dan Rumah Sakit Pastikan Pelayanan Kesehatan Siaga
Bhabinkamtibmas Desa Angkasa Hadiri Penyerahan BLT dan Santunan Anak Yatim, Wujud Kepedulian Sosial di Tengah Masyarakat
Wabup Pelalawan H. Husni Tamrin Gelar Buka Puasa Bersama GSB dan BKM Masjid Pkl. Kerinci
Aipda Marmin, S.H, Bersama Kades Laksanakan Patroli Pencegahan Karhutla
Komnas PA Pelalawan Murka! Aksi Main Hakim Sendiri terhadap Anak di Bulan Ramadhan Dinilai Biadab, Aparat Diminta Tangkap Pelaku
Kobaran Api di Bulan Suci — Lahan Koperasi RTBS di Desa Merbau Terbakar, APH Diminta Bertindak Tegas
Ketua DPD PISN KOTA Medan Hadiri Doa dan Buka Puasa Bersama di Polrestabes Medan 
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 17 Maret 2026 - 09:31

Buka Puasa Bersama Wartawan Bupati Zukri Ajak Pers Bersinergi Bangun Pelalawan

Senin, 16 Maret 2026 - 22:11

Diduga Tak Ber’Etika dan Ber’Adab, Oknum Wartawan “JITAK KEPALA” Rekan Seprofesi Didepan Publik Saat Acara Bukber~Marwah dan Profesionalisme Pers Dipertanyakan Publik!

Senin, 16 Maret 2026 - 08:24

Kadis Kesehatan Pelalawan Tinjau Posko Lebaran, Puskesmas dan Rumah Sakit Pastikan Pelayanan Kesehatan Siaga

Senin, 16 Maret 2026 - 08:13

Bhabinkamtibmas Desa Angkasa Hadiri Penyerahan BLT dan Santunan Anak Yatim, Wujud Kepedulian Sosial di Tengah Masyarakat

Jumat, 13 Maret 2026 - 16:23

Wabup Pelalawan H. Husni Tamrin Gelar Buka Puasa Bersama GSB dan BKM Masjid Pkl. Kerinci

Jumat, 13 Maret 2026 - 06:23

Komnas PA Pelalawan Murka! Aksi Main Hakim Sendiri terhadap Anak di Bulan Ramadhan Dinilai Biadab, Aparat Diminta Tangkap Pelaku

Kamis, 12 Maret 2026 - 12:44

Kobaran Api di Bulan Suci — Lahan Koperasi RTBS di Desa Merbau Terbakar, APH Diminta Bertindak Tegas

Selasa, 10 Maret 2026 - 10:09

Ketua DPD PISN KOTA Medan Hadiri Doa dan Buka Puasa Bersama di Polrestabes Medan 

Berita Terbaru