Jakarta | Buserinvestigasi24.com
Dinamika geopolitik dunia kembali menjadi sorotan tajam setelah meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Profesor Doktor Sutan Nasomal SH MH menilai, langkah Amerika Serikat mendekati China menunjukkan adanya kepanikan geopolitik akibat melemahnya posisi Amerika dan sekutunya dalam menghadapi Iran.
Menurut Prof Dr Sutan Nasomal, kedatangan Presiden Amerika Serikat ke China dapat dimaklumi sebagai bagian dari upaya membangun kembali hubungan perdagangan dan diplomasi bilateral yang sebelumnya mengalami ketegangan cukup panjang.
“Amerika kini berupaya membuka catatan baru hubungan dagang dengan China, termasuk membahas penurunan tarif dan kemudahan perdagangan kedua negara. Situasi ini menunjukkan bahwa Amerika membutuhkan dukungan strategis dalam menghadapi kondisi global yang semakin rumit,” ujar Prof Dr Sutan Nasomal SH MH, Pakar Hukum Internasional, Ekonom Nasional sekaligus Presiden Partai Koalisi Rakyat Indonesia, saat diwawancarai para pimpinan redaksi media nasional dan internasional di kantornya kawasan Cijantung, Jakarta, Kamis (22/05/2026).
Ia menilai, salah satu kepentingan utama Amerika mendekati China adalah agar Negeri Tirai Bambu tersebut dapat membantu menciptakan komunikasi yang lebih lunak dengan Iran, khususnya terkait keamanan jalur perdagangan internasional di Selat Hormuz.
“Amerika membutuhkan stabilitas di Selat Hormuz agar kembali aman dilintasi kapal-kapal dunia. Karena itu, hubungan dengan China menjadi sangat penting dalam membangun keseimbangan baru,” tegasnya.
Prof Sutan Nasomal juga menyebut, selama ini Amerika Serikat dikenal sebagai negara adidaya dunia. Namun, menurut pandangannya, konflik berkepanjangan dengan Iran pada tahun 2026 telah mengubah persepsi global terhadap kekuatan militer Amerika.
“Kehebatan militer Amerika bagi Iran saat ini dianggap tidak lagi menakutkan. Berbulan-bulan konflik berlangsung, namun Amerika bersama Israel dinilai belum mampu melumpuhkan kekuatan militer Iran secara penuh,” katanya.
Potensi Konflik Global Semakin Besar
Lebih lanjut, Prof Sutan Nasomal mengungkapkan adanya indikasi penguatan komunikasi strategis antara Iran, China, Rusia, dan Korea Utara dalam menghadapi dominasi Amerika Serikat dan Israel di berbagai kawasan dunia.
Ia bahkan memperingatkan kemungkinan munculnya konflik yang lebih besar, termasuk ancaman perang nuklir berskala menengah maupun besar apabila situasi global terus memanas tanpa solusi diplomatik yang jelas.
“Konflik dunia saat ini sangat berbahaya. Jika tidak dikendalikan melalui jalur diplomasi internasional, maka risiko perang besar akan semakin terbuka,” ujarnya.
Menurutnya, perang yang berlangsung telah menimbulkan ribuan korban jiwa di berbagai pihak, termasuk Iran, Lebanon, Yaman, Israel, dan Amerika Serikat. Selain itu, biaya perang disebut telah mencapai angka triliunan rupiah dengan dampak kehancuran ekonomi global yang sangat besar.
Dampak Ekonomi dan Ancaman Revolusi Sosial
Prof Sutan Nasomal juga menyoroti dampak ekonomi global akibat konflik geopolitik tersebut. Kenaikan harga minyak dan energi dinilai berpotensi memicu krisis sosial di banyak negara berkembang.
“Banyak negara akan kesulitan mempertahankan stabilitas nasional karena mahalnya energi dan kebutuhan pokok. Kenaikan harga dapat menjadi pemicu revolusi sosial apabila para pemimpin negara tidak peka terhadap kondisi rakyatnya,” jelasnya.
Ia menambahkan, dunia saat ini tengah memasuki fase perubahan besar yang akan melahirkan sistem dan tatanan baru dalam bidang politik, hukum, ekonomi, hingga sosial masyarakat internasional.
“Dunia sedang bergerak menuju keseimbangan baru. Sistem lama perlahan akan ditinggalkan dan diganti dengan pola baru yang dianggap lebih kuat dalam mengendalikan kehidupan global,” tutupnya.
Narasumber:
Prof Dr Sutan Nasomal SH MH
Pakar Hukum Internasional
Ekonom Nasional
Presiden Partai Koalisi Rakyat Indonesia
Ketua Umum Perkumpulan Advokat Muda Indonesia
Call Center: 0877-1902-1960






















