HUT Ke-81 RI, Prof. Sutan Nasomal: Jangan Hanya Nyanyikan Indonesia Raya, Ingatlah Sang Penciptanya

- Penulis

Minggu, 16 Agustus 2026 - 10:25

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JATIM | SURABAYA | Buserinvestigasi24.com

16 Agustus 2026

Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026, Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal, S.H., M.H., mengajak masyarakat Indonesia kembali menengok salah satu bagian penting dari perjalanan sejarah bangsa: sosok Wage Rudolf (W.R.) Soepratman, pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Momentum 17 Agustus memiliki makna yang berlapis. Selain menjadi hari bersejarah ketika Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dikumandangkan pada 17 Agustus 1945, tanggal yang sama juga menjadi hari wafatnya W.R. Soepratman pada 17 Agustus 1938.

Ada rentang waktu tepat tujuh tahun di antara kedua peristiwa tersebut.

W.R. Soepratman tidak sempat menyaksikan Indonesia berdiri sebagai negara merdeka. Ia tidak melihat Merah Putih berkibar sebagai bendera negara dan tidak menyaksikan Indonesia Raya dikumandangkan sebagai lagu kebangsaan Republik Indonesia.

Namun, karya yang lahir dari semangat kebangsaan itu justru bertahan melampaui zaman.

Indonesia Raya dan Jejak Kesadaran Kebangsaan

Indonesia Raya pertama kali diperkenalkan kepada publik dalam Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928. Pada masa tersebut, kesadaran mengenai persatuan dan identitas kebangsaan Indonesia tengah tumbuh semakin kuat.

Karya W.R. Soepratman kemudian menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah tersebut.

Indonesia Raya bukan sekadar rangkaian nada dan lirik. Lagu itu menjadi salah satu simbol yang merepresentasikan semangat persatuan, kebangsaan dan cita-cita kemerdekaan.

Karena itu, setiap kali Indonesia Raya dikumandangkan, masyarakat tidak hanya sedang menyanyikan sebuah lagu kebangsaan, tetapi juga sedang menghidupkan kembali ingatan tentang perjalanan panjang bangsa Indonesia.

Jejak Terakhir Sang Pencipta

Sejarah mencatat, masa-masa terakhir kehidupan W.R. Soepratman berlangsung dalam kondisi kesehatan yang semakin menurun.

Pemerintah Kota Surabaya mencatat bahwa pada 7 Agustus 1938, W.R. Soepratman ditangkap aparat kolonial setelah memimpin penyiaran lagu Matahari Terbit. Ia kemudian ditahan di Penjara Kalisosok.

Dalam kondisi kesehatan yang semakin lemah, ia akhirnya kembali ke kediaman kakaknya di Jalan Mangga No. 21, Surabaya.

Di rumah tersebut, W.R. Soepratman menjalani hari-hari terakhir kehidupannya hingga mengembuskan napas terakhir pada 17 Agustus 1938.

Tujuh tahun kemudian, tepat pada tanggal yang sama, sejarah Indonesia berubah secara monumental.

Pada 17 Agustus 1945, Soekarno dan Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Indonesia Raya kemudian menjadi lagu kebangsaan negara yang baru lahir tersebut.

Ironisnya, sang pencipta tidak pernah menyaksikan momen bersejarah itu.

Namun, warisannya tetap hidup dan menjadi bagian dari identitas bangsa Indonesia.

Prof. Sutan Nasomal: Kemerdekaan Harus Disertai Kesadaran Sejarah

Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal, S.H., M.H., yang dikenal sebagai pakar hukum internasional dan ekonom, menilai peringatan HUT ke-81 RI seharusnya tidak berhenti pada seremoni dan perayaan.

Menurutnya, kemerdekaan harus diiringi kesadaran untuk menghargai sejarah serta orang-orang yang telah memberikan kontribusi bagi perjalanan bangsa.

«“Kemerdekaan harus dipahami dengan kesadaran sejarah. Jangan sampai bangsa Indonesia menikmati kemerdekaan, tetapi melupakan orang-orang yang sebelum Republik ini berdiri telah menanamkan semangat persatuan dan kebangsaan. W.R. Soepratman adalah salah satu tokoh yang meninggalkan warisan sangat besar melalui Indonesia Raya.”»

Ia menegaskan, Indonesia Raya memiliki makna jauh lebih besar daripada sekadar lagu yang dinyanyikan dalam berbagai upacara kenegaraan.

«“Indonesia Raya adalah simbol kebangsaan. Ketika lagu itu dikumandangkan, sesungguhnya kita sedang mengingat perjalanan bangsa. Karena itu, penciptanya tidak boleh hilang dari ingatan generasi Indonesia.”»

Menurut Sutan Nasomal, perjalanan hidup W.R. Soepratman juga menyimpan pesan moral yang kuat.

«“Beliau wafat pada 17 Agustus 1938, sedangkan Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945. W.R. Soepratman tidak sempat menikmati kemerdekaan yang ikut diperjuangkannya melalui karya. Tetapi warisannya justru menjadi bagian dari identitas negara yang lahir setelah beliau wafat.”»

Baca Juga:  GMPI Riau Desak APH Bongkar Tuntas Dugaan Persoalan Keuangan Perumda Tuah Sekata: Jangan Biarkan Uang Rakyat Menguap Tanpa Kejelasan, Sisa Kewajiban Disebut Rp18 Miliar

“Jangan Hafal Indonesia Raya, tetapi Lupa Penciptanya”

Sutan Nasomal juga mengingatkan pentingnya memperkenalkan sejarah W.R. Soepratman kepada generasi muda secara lebih luas.

Menurutnya, masyarakat tidak cukup hanya mengetahui Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan yang wajib dihormati. Sejarah di balik lahirnya lagu tersebut juga penting untuk dipahami.

«“Jangan sampai kita hafal lirik Indonesia Raya, berdiri tegak ketika menyanyikannya, tetapi lupa siapa penciptanya. Di balik lagu kebangsaan itu ada seorang W.R. Soepratman yang memberikan karya terbaiknya untuk bangsa.”»

Ia menilai kisah W.R. Soepratman relevan untuk menjadi refleksi bagi generasi muda di tengah perubahan zaman.

«“W.R. Soepratman tidak sempat menikmati kemerdekaan. Tetapi hari ini, setiap 17 Agustus, bangsa Indonesia menyanyikan lagu ciptaannya. Ini menunjukkan bahwa sebuah karya perjuangan dapat hidup jauh melampaui usia penciptanya.”»

Karena itu, menurutnya, penghormatan terhadap W.R. Soepratman tidak semestinya hanya muncul setiap bulan Agustus.

«“Jangan mengenang W.R. Soepratman hanya ketika bulan kemerdekaan. Sejarah harus diajarkan sepanjang waktu. Generasi muda harus mengetahui bahwa kemerdekaan Indonesia memiliki perjalanan panjang dan penuh pengorbanan.”»

Merawat Indonesia Raya Berarti Merawat Indonesia

Sutan Nasomal juga mengajak masyarakat memaknai Indonesia Raya melalui tindakan nyata dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

«“Indonesia Raya berbicara tentang Indonesia. Maka tugas generasi sekarang adalah menjaga Indonesia. Persatuan harus dirawat, hukum harus dihormati, keadilan harus diperjuangkan, dan kepentingan bangsa harus ditempatkan di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.”»

Pesan tersebut, menurutnya, merupakan bagian penting dari refleksi kemerdekaan.

Kemerdekaan bukan sekadar terbebas dari penjajahan, melainkan amanah untuk membangun kehidupan bangsa yang lebih adil, bermartabat dan berdaulat.

Dua Peristiwa pada 17 Agustus

Sejarah mencatat dua peristiwa besar yang terjadi pada tanggal yang sama, meskipun berbeda tahun:

17 Agustus 1938 — W.R. Soepratman wafat.

17 Agustus 1945 — Indonesia memproklamasikan kemerdekaan.

Keduanya tidak boleh dipandang sebagai dua peristiwa yang berdiri sendiri.

Di antara perjalanan sejarah tersebut terdapat sebuah karya monumental bernama Indonesia Raya—sebuah karya yang lahir sebelum Indonesia menjadi negara merdeka, tetapi kemudian menjadi bagian dari identitas Republik Indonesia.

W.R. Soepratman memang tidak sempat melihat Merah Putih berkibar sebagai bendera negara.

Ia juga tidak menyaksikan Indonesia Raya dinyanyikan sebagai lagu kebangsaan dalam sebuah negara yang berdaulat.

Tetapi setiap kali lagu itu berkumandang, jejak perjuangannya kembali hadir.

Jangan Biarkan Sejarah Kehilangan Ingatan

Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada akhirnya bukan hanya tentang upacara, pengibaran bendera atau kemeriahan perayaan.

Lebih dari itu, 17 Agustus adalah kesempatan bagi seluruh bangsa untuk berhenti sejenak dan mengingat kembali perjalanan panjang yang telah dilalui para pendahulu.

Termasuk mengingat W.R. Soepratman, seorang komponis dan pejuang kebangsaan yang memberikan karya monumental bagi Indonesia.

Ketika Indonesia Raya dikumandangkan pada 17 Agustus 2026, masyarakat diharapkan tidak hanya menyanyikan liriknya dengan penuh penghormatan, tetapi juga memahami sejarah dan pengorbanan di balik lahirnya lagu tersebut.

Sebab, sebuah bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu merayakan kemerdekaannya, tetapi juga bangsa yang mampu menghormati sejarah, mengenang para pendahulu dan menjaga nilai perjuangan mereka.

W.R. Soepratman telah pergi pada 17 Agustus 1938.

Tujuh tahun kemudian, Indonesia berdiri sebagai negara merdeka.

Sang pencipta memang tidak sempat menyaksikan kemerdekaan itu.

Namun selama Indonesia Raya masih dikumandangkan, semangat dan nama W.R. Soepratman akan terus memiliki tempat dalam ingatan bangsa Indonesia.

Sumber: Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal, S.H., M.H. — Pakar Hukum Internasional dan Ekonom, Presiden Partai Oposisi Merdeka Jenderal Kompii, Ketua Umum Perkumpulan Advokat Muda Indonesia (PAMID), Ketua Umum YPLBH, serta Rektor Universitas STIA/STIH Pronass.

(Jono.Ms)

Berita Terkait

Profesor Sutan Nasomal Dukung BPJPH: Label Halal Wajib Dicantumkan, Pelaku Usaha Jangan Abaikan Aturan
Kasus Layanan Internet Bone Disorot, Prof. Sutan Nasomal Hukum Internasional, Ekonom, Minta Polres Bone Buka Terang Legalitas!
IKTN Ukir Sejarah Lewat Wisuda Perdana, 46 Sarjana Dilepas Menatap Masa Depan
ACEH MENCEKAM, BENDERA MERAH PUTIH DITURUNKAN DIGANTI BULAN BINTANG, MASSA BENTROK DENGAN APARAT
Kasus Layanan Internet di Bone Disorot, Prof. Sutan Nasomal Minta Polres Buka Terang Legalitas dan Pola Usaha
Profesor Sutan Nasomal Minta Presiden Prabowo Perintahkan Wapres Gibran Audit 32 Ribu Korban Banjir Bireuen, Baru 4.000 Tersalur Diduga “Ngapung”
Prof. Sutan Nasomal Dorong Kapolri Beri Penghargaan bagi Personel Berprestasi dalam Pengungkapan Kasus
Wabup Pelalawan dan Kapolres Turun Langsung Tangani Karhutla di Teluk Binjai
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 16 Agustus 2026 - 10:37

Profesor Sutan Nasomal Dukung BPJPH: Label Halal Wajib Dicantumkan, Pelaku Usaha Jangan Abaikan Aturan

Minggu, 16 Agustus 2026 - 10:34

Kasus Layanan Internet Bone Disorot, Prof. Sutan Nasomal Hukum Internasional, Ekonom, Minta Polres Bone Buka Terang Legalitas!

Minggu, 16 Agustus 2026 - 10:25

HUT Ke-81 RI, Prof. Sutan Nasomal: Jangan Hanya Nyanyikan Indonesia Raya, Ingatlah Sang Penciptanya

Minggu, 16 Agustus 2026 - 10:17

IKTN Ukir Sejarah Lewat Wisuda Perdana, 46 Sarjana Dilepas Menatap Masa Depan

Minggu, 16 Agustus 2026 - 10:08

ACEH MENCEKAM, BENDERA MERAH PUTIH DITURUNKAN DIGANTI BULAN BINTANG, MASSA BENTROK DENGAN APARAT

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 03:59

Profesor Sutan Nasomal Minta Presiden Prabowo Perintahkan Wapres Gibran Audit 32 Ribu Korban Banjir Bireuen, Baru 4.000 Tersalur Diduga “Ngapung”

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 03:54

Prof. Sutan Nasomal Dorong Kapolri Beri Penghargaan bagi Personel Berprestasi dalam Pengungkapan Kasus

Kamis, 13 Agustus 2026 - 15:50

Wabup Pelalawan dan Kapolres Turun Langsung Tangani Karhutla di Teluk Binjai

Berita Terbaru