Jakarta | Buserinvestigasi24.com
Prof.Dr.Sutan Nasomal,S.H.,M.H., menyampaikan keprihatinannya terhadap masih banyaknya pejuang kemerdekaan Indonesia yang dinilai belum memperoleh penghargaan yang layak atas jasa-jasa mereka kepada bangsa dan negara.
Dalam keterangannya kepada sejumlah pimpinan redaksi media cetak dan media online, baik nasional maupun internasional, Senin (08/06/2026), di Jakarta, Prof.Sutan Nasomal menyoroti sosok Kapten Inf. (Purn) TB.A.Basuni, salah satu pejuang asal Bogor yang dinilai memiliki kontribusi besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Menurutnya, masih banyak nama pejuang bangsa yang belum diabadikan sebagai nama jalan, gedung pemerintahan, maupun fasilitas publik lainnya, baik di Kota Bogor, Kabupaten Bogor, maupun di berbagai daerah di Indonesia.
“Sangat disayangkan apabila jasa para pejuang yang telah mengorbankan tenaga, pikiran, bahkan jiwa dan raganya untuk kemerdekaan bangsa tidak mendapatkan penghargaan yang semestinya. Negara perlu kembali mendata dan memperhatikan para pejuang yang selama ini mungkin belum tercatat secara maksimal,” ujar Prof. Sutan Nasomal.
Ia juga meminta Presiden Republik Indonesia, Jenderal H. Prabowo Subianto, beserta jajaran pemerintah pusat untuk melakukan pendataan ulang terhadap para pejuang kemerdekaan yang dinilai layak mendapatkan penghargaan negara, termasuk gelar Pahlawan Nasional.
Menurutnya, pengakuan terhadap jasa para pejuang bukan hanya bentuk penghormatan kepada sejarah bangsa, tetapi juga menjadi teladan bagi generasi muda agar memahami nilai-nilai perjuangan dan pengorbanan para pendahulu bangsa.
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya,” kutipan pidato Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, pada peringatan Hari Pahlawan tanggal 10 November 1961.
Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 pada Agustus 2026 dan Hari Ulang Tahun TNI ke-81 pada Oktober 2026, Prof. Sutan Nasomal menilai momentum tersebut sangat tepat untuk kembali mengangkat nama-nama pejuang yang dinilai belum memperoleh perhatian yang memadai.
Salah satu tokoh yang menjadi sorotannya adalah Kapten Inf. (Purn) TB. A. Basuni. Sosok ini tercatat sebagai salah satu pendiri Badan Keamanan Rakyat (BKR) Bogor pada tahun 1945 yang kemudian menjadi cikal bakal terbentuknya Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Sejak masa perjuangan kemerdekaan, TB. A. Basuni aktif bergerilya melawan penjajah dan pernah bergabung dengan Pasukan Pembela Tanah Air (PETA) di bawah kepemimpinan KH. Syam’un sebelum melanjutkan perjuangannya di wilayah Bogor.
Ahli waris TB. A. Basuni, Tubagus Hendra Bayu Rota, menjelaskan bahwa almarhum juga terlibat dalam Peristiwa Bojong Kokosan tahun 1945 yang menjadi bagian penting dalam sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Atas dedikasi dan pengabdiannya kepada bangsa dan negara, TB. A. Basuni telah menerima berbagai tanda jasa dan penghargaan, di antaranya Bintang Gerilya, Bintang Kartika Eka Paksi Nararya, Bintang Sewindu, Satya Lencana Kesetiaan XXIV Tahun, Satya Lencana Perang Kemerdekaan I dan II, serta Satya Lencana Gerakan Operasi Militer (GOM) I dan V.
Namun demikian, menurut Prof. Sutan Nasomal, sosok Kapten Inf. (Purn) TB. A. Basuni hingga saat ini dinilai belum mendapatkan perhatian yang sebanding dengan jasa perjuangannya.
Karena itu, ia berharap Pemerintah Kota Bogor, Pemerintah Kabupaten Bogor, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, serta pemerintah pusat dapat memberikan penghormatan yang layak terhadap jasa-jasa TB. A. Basuni dan para pejuang lainnya yang telah berkontribusi besar dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia.
“Jangan sampai generasi penerus kehilangan jejak sejarah perjuangan para pendahulu bangsa. Penghargaan terhadap pahlawan adalah bentuk penghormatan terhadap identitas dan martabat bangsa Indonesia,” tegas Prof. Sutan Nasomal.
Narasumber:
Prof.Dr.Sutan Nasomal, S.H.,M.H.
Pakar Hukum Internasional, Ekonom, Presiden Partai Oposisi Merdeka, serta Ketua Umum Perkumpulan Advokat Muda Indonesia (PAMI). (Red)






















