Jakarta – Dinamika geopolitik internasional dalam beberapa waktu terakhir dinilai semakin memanas dan berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi dunia. Berbagai konflik dan persaingan antarnegara besar disebut tidak terlepas dari perebutan pengaruh politik, ekonomi, serta penguasaan sumber daya alam strategis.
Hal tersebut disampaikan Prof. Dr. Sutan Nasomal, SH., MH., yang menilai bahwa meningkatnya ketegangan global harus menjadi perhatian serius bagi Indonesia agar tidak terseret ke dalam pusaran kepentingan negara-negara besar.
Menurutnya, munculnya kelompok negara BRICS yang beranggotakan Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, Ethiopia, Mesir, Iran, Uni Emirat Arab, serta Indonesia yang bergabung pada 2025, telah menghadirkan poros ekonomi baru yang menjadi pesaing kekuatan ekonomi Barat.
Prof. Sutan menilai perkembangan pesat China dalam bidang teknologi, industri, dan perdagangan telah mengubah peta persaingan ekonomi global. Produk-produk teknologi dan manufaktur China kini mampu bersaing di berbagai pasar dunia, mulai dari kebutuhan rumah tangga hingga industri berteknologi tinggi.
“Persaingan ekonomi global saat ini tidak lagi hanya soal perdagangan, tetapi juga menyangkut pengaruh politik, energi, dan penguasaan sumber daya alam strategis,” ujarnya kepada media.
Ia berpendapat bahwa berbagai konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah tidak dapat dilepaskan dari kepentingan ekonomi dan energi. Kawasan tersebut selama ini menjadi salah satu pusat cadangan minyak dan gas dunia yang memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas pasokan energi global.
Menurut Prof. Sutan, negara-negara besar berupaya mempertahankan pengaruhnya melalui berbagai strategi politik dan ekonomi. Karena itu, negara-negara berkembang harus memiliki kemandirian dan ketahanan nasional yang kuat agar tidak menjadi korban dari pertarungan kepentingan global.
Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya Indonesia menjaga posisi strategisnya di tengah perubahan tatanan dunia. Menurutnya, pemerintah perlu mengedepankan kepentingan nasional dengan memperkuat sektor ekonomi, ketahanan pangan, energi, serta pengelolaan sumber daya alam secara optimal.
“Indonesia harus mengutamakan kepentingan rakyat dan menjaga stabilitas nasional. Jangan sampai terseret terlalu jauh dalam pertarungan kepentingan global yang dapat merugikan bangsa sendiri,” katanya.
Prof. Sutan juga mengingatkan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap pemimpin merupakan modal penting dalam menjaga persatuan dan stabilitas negara. Karena itu, kebijakan yang diambil pemerintah harus selalu berpihak kepada kesejahteraan rakyat serta mampu menjawab tantangan ekonomi yang semakin kompleks.
Ia berharap pemerintah terus mengedepankan prinsip kehati-hatian, memperkuat diplomasi yang seimbang, serta menjaga hubungan baik dengan seluruh negara tanpa kehilangan kemandirian dalam menentukan arah pembangunan nasional.
“Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah dan potensi besar untuk menjadi bangsa yang kuat. Yang diperlukan adalah pengelolaan yang bijaksana, sikap yang tenang, serta kemampuan membaca perubahan dunia dengan cermat,” tutupnya.
Narasumber:
Prof. Dr. Sutan Nasomal, SH., MH., Pakar Hukum Internasional, Ekonom, Presiden Partai Oposisi Merdeka, Ketua Umum Perkumpulan Advokat Muda Indonesia, serta Pengasuh Ponpes Ass Saqwa Plus.






















