Gajah diBunuh di Konsesi: Negara Absen, Korporasi Lalai

- Penulis

Minggu, 8 Februari 2026 - 08:53

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pelalawan | Buserinvestigasi24.com

Kematian seekor gajah Sumatera di areal konsesi PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) di Kabupaten Pelalawan adalah bukti telanjang gagalnya pengawasan negara dan lalainya tanggung jawab korporasi dalam melindungi satwa liar dilindungi. Dugaan kuat bahwa gajah tersebut diburu dan tewas akibat luka tembak bukan sekadar tragedi ekologis, melainkan kejahatan serius yang terjadi di bawah pengelolaan izin resmi negara. Minggu (08/02/2026)

Perlu ditegaskan sejak awal: areal konsesi bukan wilayah tanpa hukum. Ketika negara memberikan izin pengelolaan hutan skala besar kepada korporasi, maka bersamaan dengan itu melekat kewajiban mutlak untuk melindungi hutan, koridor satwa, dan kawasan bernilai konservasi tinggi (High Conservation Value/HCV). Fakta bahwa seekor gajah jantan berusia lebih dari 40 tahun bisa dibunuh di dalam konsesi menunjukkan satu hal: sistem perlindungan yang diklaim selama ini gagal total.

Sebagai pemuda Pelalawan, saya menolak narasi yang hanya berfokus pada “pencarian pelaku”. Pelaku lapangan memang harus dihukum, tetapi akar masalahnya adalah pembiaran struktural. Bagaimana mungkin perburuan satwa sebesar gajah yang bukan satwa kecil dan sulit terdeteksi bisa terjadi tanpa adanya kelalaian pengawasan? Di mana patroli rutin? Di mana sistem pemantauan pergerakan satwa? Di mana deteksi dini terhadap ancaman perburuan?

Jika pengawasan berjalan, gajah tidak mati dua minggu di hutan sebelum ditemukan dalam kondisi membusuk. Fakta ini seharusnya cukup untuk menyimpulkan bahwa perlindungan satwa di areal konsesi tidak berjalan efektif, atau bahkan hanya formalitas administratif demi memenuhi kewajiban laporan dan sertifikasi.

Baca Juga:  Pembina TMP-TP, Prof Sutan Nasomal SH Sambut Hangat dan Positif Pidato Wagub Aceh Di Hari Jadi Ke 27 Aceh Singkil

Lebih berbahaya lagi, kasus ini membuka dugaan bahwa areal konsesi telah menjadi ruang aman bagi kejahatan satwa liar, karena lemahnya kontrol dan minimnya transparansi. Ketika konsesi luas dikelola tertutup dari pengawasan publik, maka yang lahir bukan pengelolaan berkelanjutan, melainkan zona abu-abu yang rawan pelanggaran ekologis.

Pemerintah tidak boleh berhenti pada pemeriksaan simbolik terhadap manajemen perusahaan. Audit menyeluruh harus dilakukan dan diumumkan ke publik:

1). Apakah kewajiban HCV benar-benar dijalankan?

2). Berapa frekuensi patroli?

3). Bagaimana standar pengamanan terhadap perburuan liar?

4). Dan apa sanksi konkret jika semua itu hanya ada di atas kertas?

Jika kelalaian terbukti dan tidak ada konsekuensi tegas, maka negara secara tidak langsung ikut bertanggung jawab atas kematian gajah tersebut. Impunitas terhadap kelalaian korporasi adalah jalan pintas menuju kepunahan satwa liar.

Pemuda Pelalawan menolak diam. Kami menuntut:

1. Evaluasi izin konsesi secara serius, bukan sekadar teguran.

2. Sanksi nyata atas kelalaian perlindungan satwa, termasuk opsi pembatasan atau pencabutan izin.

3. Keterlibatan masyarakat dan pemuda lokal dalam pengawasan independen, bukan sekadar pelengkap program CSR.

4. Transparansi penuh hasil penyelidikan dan audit kepada publik.

Kematian satu gajah Sumatera bukan angka statistik. Ia adalah tanda bahaya bahwa pengelolaan hutan kita sedang berada di jalur yang salah. Jika negara terus abai dan korporasi terus berlindung di balik laporan, maka yang sedang kita saksikan bukan pembangunan, melainkan kepunahan yang dilegalkan oleh kelalaian.(Jono.Ms)

 

*Zakaria Juniarto, S.I.Kom*

Pemuda Pelalawan

Berita Terkait

LAPOR PAK KAPOLRES! DUGAAN JUDI SABUNG AYAM SEMAKIN MENGGILA DAN MERESAHKAN WARGA DI DESA PESAGUHAN~”KHAIRUL ANAM” DESAK KASAT RESKRIM BERTINDAK TEGAS! 
2.090 HEKTARE LAHAN ULAYAT PALAS MEMANAS! Dugaan Panjar Fantastis Mencuat, Aktivitas Panen Akasia Disorot — APH DITANTANG BONGKAR SIAPA YANG BERMAIN
LAHAN ULAYAT 2.090 HEKTARE DI DESA PALAS JADI SOROTAN: KADES SAMSARI DITUDING, PT ARARA ABADI DISOROT — APARAT DITANTANG BUKA-BUKAAN
LAPOR PAK BUPATI! KASI PMD (ASN) KEC.LANGGAM DIDUGA MENELANTARKAN ISTRI SIRIH DAN ANAKNYA YANG MASIH KECIL | “SAAT DIKONFIRMASI SELAMA 24 JAM BELIAU MEMILIH BUNGKAM”
DUGAAN PENELANTARAN ANAK OLEH OKNUM ASN DI KEC.LANGGAM MEMANAS, APARAT DIMINTA TIDAK TUTUP MATA: “INTEGRITAS PELAYAN PUBLIK DIPERTARUHKAN”
PERSOALAN LINGKUNGAN PT ADEI PLANTATION & INDUSTRY MEMANAS! TIGA PEJABAT UTAMA BUNGKAM, DUGAAN LIMBAH DAN SEMPADAN SUNGAI JADI SOROTAN — AKANKAH NEGARA DIAM?
BUNGKAMNYA 3 PEJABAT UTAMA PT ADEI PLANTATION & INDUSTRY, AKANKAH NEGARA TUTUP MATA? DESAKAN WARGA UNTUK MENGAUDIT LINGKUNGAN HIDUP MENGUAT, APARAT JANGAN HANYA MENJADI PENONTON!
DUGAAN PENGABAIAN SEMPADAN SUNGAI DI AREAL PT ADEI PLANTATION & INDUSTRY, WARGA DESAK APARAT PENEGAK HUKUM TURUN TANGAN
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 16 Agustus 2026 - 10:37

Profesor Sutan Nasomal Dukung BPJPH: Label Halal Wajib Dicantumkan, Pelaku Usaha Jangan Abaikan Aturan

Minggu, 16 Agustus 2026 - 10:34

Kasus Layanan Internet Bone Disorot, Prof. Sutan Nasomal Hukum Internasional, Ekonom, Minta Polres Bone Buka Terang Legalitas!

Minggu, 16 Agustus 2026 - 10:25

HUT Ke-81 RI, Prof. Sutan Nasomal: Jangan Hanya Nyanyikan Indonesia Raya, Ingatlah Sang Penciptanya

Minggu, 16 Agustus 2026 - 10:17

IKTN Ukir Sejarah Lewat Wisuda Perdana, 46 Sarjana Dilepas Menatap Masa Depan

Minggu, 16 Agustus 2026 - 10:08

ACEH MENCEKAM, BENDERA MERAH PUTIH DITURUNKAN DIGANTI BULAN BINTANG, MASSA BENTROK DENGAN APARAT

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 03:59

Profesor Sutan Nasomal Minta Presiden Prabowo Perintahkan Wapres Gibran Audit 32 Ribu Korban Banjir Bireuen, Baru 4.000 Tersalur Diduga “Ngapung”

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 03:54

Prof. Sutan Nasomal Dorong Kapolri Beri Penghargaan bagi Personel Berprestasi dalam Pengungkapan Kasus

Kamis, 13 Agustus 2026 - 15:50

Wabup Pelalawan dan Kapolres Turun Langsung Tangani Karhutla di Teluk Binjai

Berita Terbaru